RelationshipSelf

Apakah Kamu Mengenal Dirimu Sendiri?

Di zaman dengan teknologi maju seperti sekarang, komunikasi dan koneksi antar sesama begitu mudah dan tanpa batas. Terkadang kita terlalu sibuk untuk terhubung dengan orang lain dibandingkan dengan diri sendiri.

Pada tahun 2014 terdapat penelitian dimana hampir 50% partisipannya lebih memilih untuk disetrum dibandingkan duduk diam dengan pikiran mereka sendiri selama 15 menit. Sebagian besar alasannya adalah karena duduk diam tidak menyenangkan dan merupakan aktivitas yang membosankan.

Namun kurangnya pemahaman akan diri sendiri tidak hanya merugikanmu namun juga orang-orang disekitarmu. Banyak orang yang merasa ‘takut’ sendirian dengan pikirannya karena biasanya yang selalu diingat adalah hal-hal negatif, menyalahkan diri sendiri, mempertanyakan mengapa suatu hal buruk dapat terjadi.

Setiap orang hanya ingin menjadi bahagia atau paling tidak merasa bahagia. Dan seringnya pikiran yang muncul menghilangkan perasaan bahagia tersebut. Kamu mungkin sering mendengar pepatah yang mengatakan: Musuh terbesarmu adalah dirimu sendiri. Artinya jika kamu tidak bisa berdamai dengan dirimu sendiri, bagaimana kamu bisa berdamai dengan orang lain dan keadaanmu sekarang.

Dampak Buruk dari Kurangnya Mengenali Diri

Sebagai manusia kita diajarkan dan belajar norma-norma sosial dalam bermasyarakat; untuk dapat membedakan apa yang benar dan tidak benar untuk dilakukan. Namun, sebagai manusia yang tidak sempurna, kita kerap melakukan kesalahan baik secara sadar maupun tidak. Dan sudah sifatnya manusia juga untuk selalu merasa benar dan tidak mau disalahkan.

Dengan pesatnya kemajuan internet, dimana orang-orang yang sepemikiran dapat bertemu dalam suatu platform, dapat dengan mudah menjustifikasi perbuatan yang dilakukan yang mengakibatkan pemahaman akan suatu hal yang benar dan tidak menjadi kabur. Akibat lain yang ditimbulkan adalah kurangnya rasa empati, dan semakin besarnya ego untuk selalu merasa benar.

Perlu diingat bahwa baik buruknya seseorang, hanya orang lain yang dapat menilai. Tidak peduli bagaimana kamu mengatakan bahwa kamu adalah orang yang baik, namun jika tidak ada satupun yang menyetujuinya, maka tidak akan ada yang berpikir bahwa kamu orang baik. Hal ini pun berlaku untuk semua sifat lainnya.

Setiap orang memiliki cara berpikir dan melihat sesuatu secara berbeda, sehingga pengakuan positif orang-orang atas dirimu akan datang dengan sendirinya tanpa kamu harus mengatakannya. Oleh karena itu jika kamu ingin menjadi orang yang dianggap lebih baik, penting sekali melihat dirimu sendiri lewat pandangan yang lebih luas, melampaui dukungan dari komunitas sepemikiranmu.

refleksi-diri

Berdamai dengan Dirimu Sendiri

Mengakui kesalahan diri merupakan hal yang paling sulit dilakukan. Walaupun pengakuan itu hanya kepada dirimu sendiri, dan bukan orang lain. Cara paling mudah dalam mengakui bahwa kamu salah adalah dengan mengingat dan menganalisa kembali kejadian yang tidak mengenakan. Kamu tidak perlu melakukannya secara langsung dalam kondisi emosi masih menggebu-gebu.

Beri waktu untuk menenangkan dirimu sendiri. Setelah kamu merasa tenang dan merasa bisa berpikir netral, maka ingat-ingat lagi apa yang terjadi. Misalnya kamu dan teman-temanmu sedang bercanda dan kamu mengatakan kalimat yang rupanya malah membuat salah satu temanmu marah di depan teman-teman lain. Kamu merasa tidak terima dengan amarahnya, mempermalukanmu di depan umum, dan terutama jika maksudmu hanya sekedar candaan.

Jika pada saat mengingat kejadian kamu tetap merasa benar, coba ubah sudut pandangmu; tempatkan posisimu di posisi temanmu. Bayangkan kalau ada seseorang yang mengucapkan kalimat yang menyinggungmu maka bagaimana perasaanmu. Jika kamu merasa bahwa kamu tidak ada masalah karena konteksnya adalah bercanda, tidak apa-apa, perasaanmu benar. Namun, perasaan temanmu yang tersinggung atau sakit hati pun juga benar.

Walaupun berteman, kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang terjadi dalam hidupnya, pengalamannya, dan perasaannya akan sesuatu. Pun teman-temanmu belum tentu mengenalmu sedalam itu. Dengan seringnya menganalisa peran masing-masing orang dalam suatu kejadian, maka dapat meningkatkan perspektif kamu dalam menghadapi orang lain, dan perlahan mengenal dirimu lebih dalam.

Pengenalan Diri dan Hubungannya dengan Orang Lain

Merujuk pada contoh di atas, dengan mengakui dan menerima bahwa ada ‘kesalahan’ yang kamu lakukan dalam berkomunikasi yang dapat menyinggung orang lain; salah memilih kata-kata, tidak bisa membaca situasi, dan lain sebagainya, langkah selanjutnya adalah apakah kamu ingin memperbaiki hal itu atau tidak.

Jika kamu ingin memperbaiki hubungan dengan temanmu itu, maka tidak ada salahnya untuk mengajaknya berbicara. Meminta maaf duluan pun bukan suatu hal besar jika kamu memutuskan bahwa menjaga hubungan baik lebih penting dibandingkan dengan egomu sendiri. Namun jika kamu memutuskan bahwa kamu tidak mau memperbaiki hubungan dengan temanmu, tidak apa-apa. Keputusanmu untuk melakukan sesuatu atau tidak adalah hakmu.

Perlu diingat bahwa setiap keputusan yang kamu ambil di dalam hidup, tentunya akan memiliki dampak ke depannya; apakah dampak tersebut adalah suatu hal yang positif atau negatif. Semua keputusan dan pengalaman hidupmu adalah suatu proses dan perjalanan panjang. Dampak dari suatu keputusan yang dibuat akan membentuk pribadimu sebagai seorang individu, dimana hal tersebut dapat memengaruhi hubunganmu dengan orang lain.

 

 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button