RelationshipSocial

Apa itu Toxic Positivity

Bentuk Toxic Positivity dalam Kehidupan Sehari-hari

Selalu berpikir positif tentang segala sesuatu ataupun hal yang sedang dialami itu adalah hal yang baik. Namun apakah selalu begitu?

Dalam beberapa kasus, berpikir positif adalah hal pikiran yang mungkin dipaksakan oleh diri sendiri. Misalnya, seseorang mungkin berusaha tampil bahagia sepanjang waktu dengan memperlihatkan dan mengatakan bahwa segala sesuatu yang terjadi harus dilihat sisi positifnya.

Padahal untuk beberapa kasus, sikap tersebut bersifat tidak tepat. Misalnya memberi tahu seseorang yang sedang berduka untuk move on atau mencari sisi positif dari kehilangannya. Hal tersebut hanya menunjukkan tidak adanya empati terhadap kondisi orang lain.

Apa yang Dimaksud dengan Toxic Positivity?

Selama beberapa dekade belakangan, banyak literasi mengenai manfaat dari berpikir positif, dan bahkan ada beberapa studi yang menunjukkan bukti bahwa pikiran yang positif dapat meningkatkan kesehatan mental.

Misalnya, sebuah studi yang berjudul “Mediating Effects of Positive Thinking and Social Support on Suicide Resilience” yang diterbitkan pada tahun 2018, dengan objek kasus terhadap mahasiswa. Studi ini menunjukkan bahwa memiliki harga diri yang tinggi dapat mendukung pemikiran positif sehingga mengurangi risiko bunuh diri.

Studi ini juga menyoroti manfaat berpikir positif yang menunjukkan bahwa faktor-faktor seperti dukungan sosial dan efikasi diri, yang merupakan kemampuan seseorang untuk mengatasi dan dapat berinteraksi dengan pemikiran positif, dapat meningkatkan kesejahteraan.

Berpikir positif seringnya bukanlah hal yang dapat muncul tiba-tiba, dan juga bukanlah suatu obat mujarab untuk menjawab dan mengatasi semua tantangan hidup.

Toxic positivity adalah keyakinan bahwa tidak peduli seberapa parah atau sulitnya suatu situasi, orang harus mempertahankan pola pikir positif. Istilah “good vibes only”, adalah salah satu kalimat menggambarkan hal ini.

Betul bahwa ada banyak manfaat untuk menjadi seorang yang optimis dan terlibat dalam pemikiran positif, namun toxic positivity adalah sifat optimis dan positif yang dipaksakan, dan seringnya tidak yang sebenarnya dirasakan terjadi.

Toxic positivity memaksakan pemikiran positif sebagai satu-satunya solusi untuk masalah, menuntut agar seseorang menghindari pemikiran negatif atau mengekspresikan emosi negatif.

Kita semua tahu bahwa memiliki pandangan hidup yang positif baik untuk kesehatan mental. Masalahnya adalah bahwa hidup tidak selalu positif. Kita semua berurusan dengan emosi dan pengalaman yang menyakitkan.

Emosi-emosi itu, meskipun seringkali tidak menyenangkan, penting dan perlu dirasakan dan ditangani secara terbuka dan jujur.

Toxic positivity membawa pemikiran positif secara ekstrem yang digeneralisasikan untuk berbagai hal, dan dilakukan secara berlebihan. Sikap ini tidak hanya menekankan pentingnya optimisme, tetapi juga meminimalkan dan menyangkal emosi manusia yang tidak selamanya selalu bahagia atau positif.

Penelitian seputar berpikir positif umumnya berfokus pada manfaat memiliki pandangan optimis ketika mengalami masalah. Namun menuntut kepositifan dari orang-orang yang sedang menghadapi masalah dapat berpotensi membungkam emosi yang seharusnya dirasakan, dan menghalangi mereka untuk mencari dukungan sosial.

Bentuk Toxic Positivity dalam Kehidupan Sehari-hari

Toxic positivity memiliki berbagai bentuk, dan berikut adalah contoh yang bisa kamu lihat dalam kehidupan sehari-hari:

  • Ketika sesuatu yang buruk terjadi, seperti kehilangan pekerjaan, beberapa orang akan menyuruhmu untuk “tetap positif” atau “lihat sisi baiknya”. Meskipun komentar semacam itu seringkali dimaksudkan untuk menunjukkan simpati, namun hal itu juga bisa menjadi cara untuk menghentikan perasaan yang ingin diutarakan.
  • Untuk kamu yang sedang merasa kehilangan atau sedang berduka, beberapa orang akan memberi tahu bahwa “segala sesuatu terjadi karena suatu alasan”. Banyak orang percaya bahwa membuat pernyataan seperti itu memiliki maksud untuk menghibur, namun itu juga dapat dilihat sebagai cara untuk memungkiri rasa sakit yang sedang dirasakan olehmu.
  • “Kebahagiaan adalah pilihan”. Pernyataan ini menunjukkan bahwa jika kamu merasakan emosi negatif, maka itu adalah kesalahan kamu sendiri karena kamu tidak “memilih” untuk merasa bahagia.
  • Melabeli orang yang selalu tampil positif atau tidak mudah berbagi emosi perasaan sebagai orang yang lebih kuat atau lebih disukai daripada orang lain. Padahal setiap orang memiliki cara yang berbeda-beda dalam menunjukkan perasaannya.
  • Mendesak orang untuk berkembang tidak peduli kesulitan apa yang mereka hadapi, misalnya seperti dengan memberi tahu orang-orang bahwa mereka harus menggunakan waktu yang dimiliki selama WFH atau menganggur untuk mengembangkan keterampilan baru atau meningkatkan kebugaran mereka.

    Hal tersebut tentunya tidak berlaku untuk banyak orang yang berdampak, dan hal ini dapat meningkatkan perasaan depresi karena memberi kesan jika mereka tidak melakukannya, maka mereka dapat merasa semakin tidak berguna.

  • Menepis kekhawatiran seseorang dengan mengatakan, “Untung juga kan, kamu bisa mengalami hal yang lebih buruk lagi”. Mengatakan hal tersebut sama saja dengan menepis bahwa apa yang mereka alami tidak cukup buruk.

Enam pernyataan di atas sering kali bertujuan baik; karena banyak orang tidak tahu harus berkata apa lagi dan mungkin tidak tahu bagaimana bersikap empati.

Namun, perlu diketahui bahwa sangat penting untuk mengenali respons seperti itu bisa berbahaya. Hal ini dapat menyangkal perasaan dan dukungan otentik yang dibutuhkan untuk mengatasi apa yang orang lain sedang hadapi.

 

sign

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button