LifestyleRelationshipSocialWellness

Benarkah Media Sosial dapat Menyebabkan Depresi?

Peran Media Sosial Sebagai Penyebab Depresi

Hampir separuh orang dari seluruh dunia aktif menggunakan media sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram, dan TikTok di dalam kehidupan mereka sehari-hari.

Tingginya aktivitas dalam media sosial telah mendorong para ahli kesehatan mental untuk menyelidiki sejauh apa popularitas media sosial berperan dalam kesehatan mental seseorang.

Pada April 2019, di tengah meningkatnya pertanyaan tentang efek media sosial terhadap kesehatan mental, Instagram mengumumkan akan menguji feed (unggahan foto) tanpa “likes”.

Pemilik akun yang memposting foto di feednya masih dapat melihat berapa banyak orang yang telah me-likes postingannya, tetapi jumlah likes tersebut tidak akan terlihat oleh publik.

Keputusan ini sebenarnya diperuntukkan untuk anak-anak muda, dimana tujuannya adalah untuk mengurangi adanya tekanan sosial akibat jumlah likes pada postingannya.

Namun pada akhirnya, menghilangkan jumlah likes yang awalnya dibuat secara default, sekarang merupakan fitur yang bisa dipilih oleh masing-masing pengguna apakah mereka menginginkan jumlah likes terlihat atau tidak.

Apa itu Depresi?

apa-itu-depresi

Depresi klinis atau gangguan depresi mayor (major depressive disorder) adalah sebuah gangguan emosi yang ditandai dengan perasaan sedih yang terus menerus dan kehilangan minat pada aktivitas yang menjadi hobinya atau kegemarannya.

Skala depresi dapat berbeda-beda untuk setiap orang, mulai dari depresi ringan hingga deperesi berat. Orang yang depresi akan merasa sulit untuk berkonsentrasi, memiliki gangguan tidur, tidak nafsu makan, membuat keputusan, atau menyelesaikan rutinitas harian mereka.

Orang dengan depresi memiliki kemungkinan lebih besar untuk memikirkan kematian atau bunuh diri, merasa tidak berharga, memiliki kecemasan yang berlebihan, hingga berimbas pada munculnya gejala fisik seperti kelelahan atau sakit kepala.

Bagaimana Media Sosial dapat Memicu Depresi

depresi-1

Media sosial memiliki sifat yang menguatkan. Berselancar dalam media sosial dapat mengaktifkan pusat otak dengan melepaskan zat dopamin. Dopamin merupakan zat kimia yang dapat membuat seseorang merasa nyaman dengan melakukan aktivitas yang menyenangkan seperti seks, makanan enak, dan interaksi sosial.

Platform media sosial dirancang untuk membuat penggunanya ketagihan, dan inilah yang akhirnya dikaitkan dengan munculnya perasaan cemas dan depresi, yang dapat mengarah kepada penyakit fisik, setelah zat dopamin dalam otak menurun.

Lalu apa sebenarnya yang membuat para aktivis media sosial selalu aktif membuka platform tersebut, hingga akhirnya dapat menyebabkan depresi?

Jacqueline Sperling, PhD, seorang psikolog di Rumah Sakit McLean yang bekerja dengan remaja yang mengalami gangguan kecemasan mengatakan bahwa suatu hasil yang tidak dapat diprediksi dapat membuat suatu adiksi.

Sama seperti game, jika kamu tahu faktanya kalau kamu tidak akan bisa menang, apakah kamu masih mau memainkan game tersebut? Tentunya tidak! Namun jika ada saja sedikit kemungkinan atau potensi dimana kamu dapat menang, maka kamu akan tetap main game tersebut, dan bahkan mencari cara untuk dapat menang.

Media sosial pun bekerja dengan konsep yang sama seperti game. Ada potensi dimana kamu bisa terkenal atau sukses dengan hal-hal yang kamu posting setiap harinya. Mungkin tidak hari ini, tapi suatu saat nanti.

Ketika memposting suatu foto atau video, kamu tidak akan pernah bisa memprediksi berapa banyak likes dan komentar yang akan kamu terima pada postingan tersebut.

Likes dan komentar adalah bentuk validasi status sosial dan koneksi dengan orang lain, di jaman sekarang. Banyak orang memposting konten dengan harapan menerima umpan balik positif, yaitu dalam bentuk likes dan komentar.

Hal ini terkadang menjadi jauh lebih penting dibandingkan koneksi dan validasi yang berasal dari orang-orang nyata di dalam kehidupannya. Istilah FOMO (Fear of Missing Out – Takut Ketinggalan) juga memiliki peran untuk selalu update dengan apa yang terjadi di dunia media sosial. FOMO membuat banyak orang untuk harus selalu membuka media sosial setiap hari.

Kemudian darimana asal perasaan cemas dan depresi muncul? Ketika kamu melihat postingan teman kamu sedang merayakan ulang tahun di suatu tempat bersama dengan beberapa teman-temanmu yang lain.

Mereka terlihat sangat seru di foto atau video tersebut, tapi kamu tidak ada disana, diundang pun tidak. Padahal katanya teman? Kasus lainnya, kamu mungkin bertanya-tanya kenapa postingan kamu tidak mendapatkan likes dan komentar sebanyak temanmu, padahal kalian memposting hal yang sama.

Dikecualikan dalam suatu aktivitas inilah yang akhirnya memengaruhi pikiran dan perasaan menjadi negatif, yang kemudian mengarah kepada penurunan kesehatan fisik. Sebuah penelitian di Inggris pada tahun 2018 mengaitkan penggunaan media sosial dengan penurunan, gangguan, dan penundaan tidur, yang dikaitkan dengan depresi, kehilangan memori, dan kinerja akademik yang buruk.

Penggunaan media sosial dapat mempengaruhi kesehatan fisik pengguna secara langsung. Para peneliti mengetahui hubungan antara pikiran dan usus dapat mengubah kecemasan dan depresi menjadi mual, sakit kepala, ketegangan otot, dan tremor.

Era Kerentanan Digital

depresi-2

Semakin dini seseorang mulai menggunakan media sosial, makan akan semakin besar dampak platform tersebut terhadap kesehatan mental. Ini terutama berlaku untuk wanita. Sementara remaja laki-laki cenderung mengekspresikan agresi secara fisik, perempuan melakukannya secara relasional dengan mengecualikan orang lain dan berbagi komentar yang menyakitkan. Media sosial meningkatkan peluang untuk interaksi berbahaya semacam itu.

Dua puluh tahun yang lalu, ketika teman kamu ulang tahun tapi kamu tidak diundang, kamu mungkin tidak akan tahu, kecuali ada yang menceritakannya kepada kamu. Namun sekarang semua orang memposting kegiatan sosialnya dan apa yang mereka lakukan sehari-hari.

Kamu pun tahu kalau kamu tidak diajak lagi ke dalam suatu kegiatan. Selain melihat pengalaman yang terlewatkan, media sosial juga meningkatkan kemungkinan melihat foto yang tidak realistis dan difilter, sehingga mengubah persepsi mengenai ketidasempurnaan fisik.

Disinilah pentingnya peranan orangtua untuk mengajarkan bagaimana menggunakan media sosial secara bijak untuk kamu yang sudah memiliki anak remaja yang memulai debut akun media sosialnya.

Sementara untuk kamu yang sudah dewasa, penting untuk selalu mengingat bahwa apa yang orang posting adalah hal-hal yang hanya ingin mereka bagi kepada publik. Kita tidak pernah tahu apa yang terjadi dalam hidup seseorang hanya dari postingan foto yang sudah mereka pilih untuk dibagikan.

Cara Menghindari Depresi dari Menggunakan Media Sosial

depresi-3

Banyak orang biasanya tidak akan membatasi diri menggunakan media sosial dengan hanya mendengar bahwa itu buruk bagi kesehatan mental. Berhenti menggunakan media sosial sama sekalu pun tidak realistis di jaman 4.0 saat ini.

Bagaimanapun juga, media sosial juga memiliki banyak hal positif lainnya. Jadi apa yang harus dilakukan agar tidak mudah terpancing emosi negatif ketika berselancar di sosial media?

Salah satu cara agar dapat menjadi netizen yang pintar adalah dengan memantau perilakumu sendiri dan menyadari batasan mentalmu. Tidak ada obat atau orang yang dapat melakukan itu untukmu, kecuali dirimu sendiri.

Ketika melihat suatu postingan yang membuatmu merasa tidak nyaman, sedih, kesal, atau apa pun yang negatif, tapi tidak ada hubungannya secara langsung denganmu atau hidupmu, maka segeralah berhenti dan lakukan kegiatan lain. Buka kembali media sosial jika perasaanmu sudah lebih baik.

Sperling mendorong orang untuk melakukan eksperimen perilaku mereka sendiri dengan menilai emosi mereka pada skala 0-10. 10 adalah yang paling intens yang bisa dialami seseorang, sebelum dan sesudah menggunakan situs media sosial pada waktu yang sama setiap hari selama seminggu.

Jika kamu menyadari bahwa kamu merasa kurang bahagia setelah menggunakan media sosial, maka kamu dapat mempertimbangkan untuk mengubah caramu menggunakan situs media sosial, seperti menggunakannya untuk waktu yang lebih sedikit dan melakukan aktivitas lain yang kamu sukai.

Media sosial tidak dapat dilepaskan begitu saja dalam kehidupan kita, namun penggunaan secara bijak sangat penting untuk kesehatan mental dan fisikmu.

Pertanyaannya adalah, kenapa kamu mau melakukan aktifitas yang membuatmu tidak merasa bahagia? Kenapa kamu mau melihat sesuatu yang hanya membuatmu merasa kurang berharga? Apakah FOMO sangat penting dalam kehidupan nyatamu?

Sampai kamu bisa merasa netral dan bahkan bisa ikut bahagia atas pengalaman seseorang yang dibagikan di sosial media, sampai kamu menemukan manfaat lain yang bisa berpengaruh positif dalam kehidupanmu di dunia nyata, sampai kamu bisa berpendapat dan mengkritisi hal negatif dengan baik dan tidak terbawa emosi berlebihan, belajarlah untuk lebih bijak dan tahu batasan mentalmu sendiri agar tidak menjadi depresi dan merasa kurang.

 

sign

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button