Work StuffWorking Life

Pro-Kontra Menjadi Pengusaha vs. Karyawan

Baca Dulu Sebelum Memutuskan!

Jadi karyawan enak, punya penghasilan tetap dan nggak usah pusing mikirin perusahaan untung atau nggak. Tapi enakan jadi pengusaha; bebas, nggak ada bos yang marahin kalau salah, dan semua pendapatan masuk ke kantong sendiri.

Itu adalah pernyataan yang sering muncul jika membicarakan enaknya jadi pengusaha atau karyawan. Namun selain enaknya, tentunya bagian tidak enaknya pun dimiliki oleh keduanya dimana masing-masing memiliki kesulitannya sendiri.

Hal terberat yang harus dipikirkan pertama-tama dari seorang pengusaha adalah mencari peluang bisnis dan menentukan bisnis macam apa yang ingin kamu jalankan. Sementara hal terberat yang harus dilakukan karyawan adalah mendapatkan pekerjaan dan bersaing dengan ribuan orang lainnya untuk mendapatkan posisi pada perusahaan tersebut.

Jika seorang pengusaha sudah menentukan tipe bisnis yang ingin dijalankannya, dan karyawan sudah mendapatkan pekerjaan, mari kita membahas pro-kontra dari keduanya sehingga lebih mudah untuk memahami mengapa keduanya setara, dimana yang satu tidak lebih baik dari yang lain.

Berikut adalah 8 bidang yang dapat kita bandingkan antara pengusaha dan karyawan:

Modal Kerja

modal

Pengusaha: Modal tidak selalu membutuhkan uang dalam jumlah besar. Kemampuan (skill), pengetahuan, waktu, dan koneksi juga merupakan modal untuk memulai dan membangun bisnis.

Karyawan: Pada bulan pertama, kamu belum mulai digaji, sehingga kamu harus menanggung uang transport dan makan kamu sendiri. Kemudian biasanya setelah diterima di suatu perusaahaan akan ada masa percobaan selama 3 bulan.

Pada saat masa percobaan, kamu akan dinilai apakah kamu sesuai dengan klaim kamu pada saat interview, dan apakah kamu dapat bekerja sesuai dengan harapan perusahaan atau tidak untuk akhirnya kamu diterima resmi sebagai karyawan. Modal yang dibutuhkan disini adalah keinginan untuk belajar dan beradaptasi dengan cepat.

Resiko Kerja

resiko-kerja

Pengusaha: Resiko kegagalan cukup tinggi, begitu juga dengan keberhasilan. Namun jika gagal, kamu harus memperbaikinya atau mengulang dari awal. Tentunya pada saat kegagalan terjadi banyak hal yang dapat hilang sebagai resikonya seperti kepercayaan klien, hilangnya investor, dan lain sebagainya.

Jika berhasil, banyak peluang yang bisa kamu raih atau buka, seperti membuka lowongan pekerjaan, meningkatkan pendapatan, mendapatkan investor, dan lain sebagainya.

Karyawan: Sebagai karyawan resiko yang ada bergantung pada perusahaan tempatmu bekerja. Misalnya, jika kamu karyawan kontrak, maka ada kemungkinan kontrakmu tidak diperpanjang. Jika perusahaan tempatmu bekerja bangkrut, kamu pun bisa kehilangan pekerjaan.

Juga apabila perusahaan sukses, maka sebagai karyawan pun kamu bisa mendapatkan “bonus” kesuksesan tersebut, seperti kenaikan gaji atau kenaikan jabatan.

Pendapatan atau Penghasilan

Pendapatan

Pengusaha: Tidak ada yang baku dalam bisnis, kamu bisa menghasilkan uang banyak dalam waktu singkat, perlahan tapi pasti, atau kadang menghasilkan-kadang tidak.

Karyawan: Keuangan setiap bulan akan stabil namun dibutuhkan periode waktu tertentu untuk mendapatkan kenaikan gaji atau naik jabatan. r

Usaha yang Dilakukan

usaha

Pengusaha: Mengorbankan waktu, pikiran, tenaga, dan usaha yang konsisten untuk selalu mencari cara mengembangkan bisnis. Ketika sudah bisa mempekerjakan orang pun tetap dibutuhkan waktu untuk mendapatkan tim pekerja yang tepat. Bukan tidak mungkin kamu malah harus bekerja 24/7/365.

Karyawan: Minimal dapat bekerja sesuai job desc dan memenuhi KPI yang ditetapkan perusahaan. Maksimalnya dapat mengerjakan pekerjaan tambahan diluar job desc dengan harapan dapat promosi atau kenaikan gaji.

Kebebasan Waktu

kebebasan-hidup

Pengusaha: Pada awal bisnis, besar kemungkinan kamu bekerja lebih dari 8 jam sehari, bahkan bekerja pada saat akhir pekan. Tidak pernah bisa benar-benar bebas terutama jika perkembangan bisnis jadi terpengaruh.

Karyawan: Setelah bekerja 8 jam sehari, maka itulah waktu bebas karyawan. Akhir pekan pun bisa bebas dari pekerjaan sama sekali. Sesekali lembur mungkin, dan beberapa perusahaan bahkan membayar uang lembur.

Cakupan Tanggung Jawab

cakupan-tanggung-jawab

Pengusaha: Bertanggung jawab atas seluruh proses bisnis, mulai dari keuangan, pemasukan, pengeluaran, klien, karyawan, investor, dan lain sebagainya.

Karyawan: Hanya memiliki tanggung jawab sebatas job desc, memenuhi peraturan perusahaan, dan menyelesaikan pekerjaan yang diberikan kepadanya.

Keamanan

keamanan

Pengusaha: Semua ditanggung, diatur, dan dikerjakan sendiri seperti laporan pajak, biaya rumah sakit, biaya asuransi, keamanan data dan stok barang.

Karyawan: Laporan pajak, biaya rumah sakit, biaya asuransi sudah ditanggung oleh perusahaan.

Kepuasan

kepuasan

Pengusaha: Menurut studi yang dirangkum graffersid, 80% pengusaha biasanya merasa puas atas bisnisnya karena semua dikerjakan, diatur, dan diputuskan sendiri.

Karyawan: Pada studi yang sama, 80% karyawan tidak puas dengan pekerjaannya dengan berbagai alasan, dan bahkan karyawan terbaik pun selalu mencari pekerjaan lain yang lebih baik. Namun pencapaian karir dan kenaikan gaji memberikan kepuasan tersendiri bagi para karyawan.

Itulah 8 area yang bisa jadi perbandingan antara menjadi pengusaha atau karyawan.

Perbandingan ini tentunya memiliki nilai sendiri. Dengan melihat 8 area perbandingan tersebut, diharapkan dapat membantu kamu untuk berpikir ulang mengenai apa yang terbaik untuk dirimu dan hidupmu, baik untuk saat ini atau di masa depan.

 

sign

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button