EmployeeWork Stuff

Apa Sih Bedanya Profesional dan Profesionalisme dalam Dunia Kerja?

Tidak semua orang memiliki profesionalisme dalam menjalankan pekerjaannya, tapi semua orang dapat belajar untuk menjadi profesional. Sebenarnya, apa sih yang dimaksud dengan profesionalisme? Apa bedanya dengan profesional?

Kalau melihat lowongan pekerjaan, salah satu kata yang sering digunakan oleh beberapa perusahaan adalah kata profesional. Kalimat yang digunakan, secara harfiah, biasanya seperti:

  • Kami mencari seorang profesional dalam bidang pemasaran.
  • Memiliki dan menunjukkan sikap profesional dalam bekerja.
  • Memiliki profesionalisme dalam bekerja.
  • Berpenampilan profesional.

professional-employee

Dari kedua contoh di atas, kata profesional memiliki dua makna yang berbeda. Pada kalimat pertama, kata profesional merujuk kepada orang. Pada kalimat kedua dan ketiga, kata profesional dan profesionalisme merujuk kepada sifat. Sementara pada kalimat keempat, kata profesional merujuk kepada penampilan fisik.

Kata profesional dan profesionalisme sendiri memang umum digunakan dalam dunia kerja, mulai dari cara kerja, penampilan, sikap, gaya bahasa, dan lain sebagainya. Namun apa sih makna sebenarnya dari profesional dan profesionalisme? Apa bedanya?

Arti Kata Profesional dan Profesionalisme

Menurut KBBI, profesional adalah sebuah kata sifat yang berhubungan dengan profesi, dimana sebuah profesi tersebut memerlukan keahlian khusus dalam menjalankannya, dan adanya transaksi pembayaran untuk melakukannya. Sementara kata benda dari profesional adalah profesionalisme yang memiliki arti mutu, kualitas, dan tindak tanduk yang merupakan ciri suatu profesi.

Masih bingung? Yuk lanjut baca, berikut adalah penjabaran dan contoh nyata untuk menggambarkan perbedaan keduanya dalam dunia kerja.

Apa itu Profesional

Professional

Dari arti profesional di atas, dapat disimpulkan bahwa seorang profesional adalah seseorang dengan profesi yang memiliki keahlian khusus pada suatu bidang yang dijalaninya. Sebagai contoh, jika ada lowongan yang mencari seorang sales profesional dalam bidang elektrikal, artinya perusahaan tersebut mencari seseorang yang berpengalaman bekerja sebagai sales dalam bidang elektrikal.

Pada lowongan kerja seperti ini, biasanya banyak perusahaan akan menyebut berapa tahun pengalaman kerja yang mereka butuhkan untuk melamar pekerjaan ini, dan pernah bekerja di bidang elektrikal.

Sebagai contoh, misalnya pengalaman kerja kamu:

  1. Perusahaan A: 2 tahun sebagai sales properti
  2. Perusahaan B: 1 tahun sebagai customer service di perusahan perbankan
  3. Perusahaan C: 1 tahun sebagai sekretaris di perusahaan elektrikal
  4. Perusahaan D: 3 tahun sebagai sales internet provider

Maka, pengalaman kamu dalam bidang sales adalah 5 tahun di perusahaan A dan D. Namun karena kamu belum pernah bekerja atau ada pengalaman di bidang elektrikal, maka perusahaan dapat menganggap bahwa kamu bukanlah seorang profesional yang perusahaan tersebut cari.

Sekarang pertanyaannya adalah, apakah dengan pengalaman sebagai sales selama 5 tahun tidak bisa disebut sebagai profesional? Dalam dunia kerja atau kantor, kamu adalah seorang sales profesional dalam bidang properti dengan pengalaman 2 tahun, dan kamu juga seorang sales profesional dalam bidang internet provider selama 3 tahun.

Tapi kamu bukanlah seorang sales profesional dalam bidang elektrikal karena kamu belum punya pengalaman sebelumnya. “Tapi saya pernah bekerja di perusahaan elektrikal?” Betul, tapi sebagai sekretaris dan bukannya sales.

Setiap perusahaan bergerak di industri yang berbeda dan cukup spesifik seperti industri manufaktur di bidang elektrikal, industri teknologi digital, industri gas dan minyak, dan lain sebagainya. Masing-masing industri tersebut menawarkan dan menjual produk atau jasa yang spesifik sesuai dengan industri mereka.

Seorang sales profesional dalam bidang elektrikal adalah orang=orang yang secara garis besar sudah mengerti produk-produk apa yang biasanya dijual oleh perusahaan ini, mengetahui calon-calon klien yang membutuhkan produk tersebut, cara agar dapat menjual produk baru ke calon klien, dan lain sebagainya. Sehingga biasanya kamu akan menemukan banyak orang yang karirnya terus naik dalam industri sejenis.

Tentunya contoh di atas bukanlah patokan apakah kamu bisa mendapatkan pekerjaan atau tidak. Beberapa profesi memungkinkan seseorang untuk dapat lompat ke industri lain tanpa ada kemunduran dalam karirnya, selama pengalamannya tetap ada di bidang yang sama.

Misalnya jika kamu memiliki pengalaman sebagai staff HRD dalam industri elektrikal, bukan tidak mungkin kamu selanjutnya dapat diterima sebagai supervisor HRD di bidang kesehatan. Semuanya kembali lagi pada apa yang dicari dan dibutuhkan oleh perusahaan yang membuka lowongan.

Baca baik-baik persyaratan (requirement) dari lowongan yang dibutuhkan, lalu kirimlah CV dengan cover letter (surat pengantar) yang menjelaskan kenapa kamu melamar dan ingin bekerja di perusahaan tersebut, dan apa yang bisa kamu tawarkan pada perusahaan itu walaupun kamu belum punya pengalaman di bidang atau industri tersebut. Siapa tahu cover letter dan CV-mu ternyata menarik perhatian HRD untuk setidaknya mengundangmu untuk interview.

Apa Itu Profesionalisme

Profesionalisme

Berbeda dengan profesional, profesionalisme adalah suatu sikap dan perilaku seseorang dalam dunia kerja. Sikap dan perilaku profesional berlaku secara umum, tanpa memandang suatu profesi dan jabatan.

Profesionalisme merupakan karakteristik untuk menunjukkan kualitas kerja, tanggung jawab, integritas, akuntabilitas dan etos kerja yang tinggi untuk membangun reputasi dan mencapai kesuksesan dalam dunia kerja. Selain itu, profesionalisme memiliki pengaruh besar pada peningkatan efisiensi dan produktivitas kerja.

Singkatnya, profesionalisme adalah sikap yang menggambarkan penampilan, tindakan, dan cara kerja selama berada di lingkungan kantor atau berhubungan dengan dunia kerja dimanapun. Tidak semua orang memiliki sikap profesional dalam bekerja, namun bukan berarti profesionalisme tidak bisa dipelajari.

Jika kamu ingin belajar dan memiliki sikap profesional, kamu hanya perlu mengingat satu hal, yaitu:

profesionalisme = respek

 

Respek kepada siapa? kepada diri kamu sendiri, orang lain (stakeholder), dan perusahaan. Respek dalam profesionalisme bukan hanya sekedar perasaan atau omongan saja, namun juga harus ditunjukkan dengan perbuatan. Bagaimana caranya?

1. Berpakaian yang Rapih

Tidak dapat dipungkiri bahwa orang lain menilai kita lewat penampilan fisik pada awal perkenalan. Kamu tidak harus memakai segala atribut branded untuk menunjukkan bahwa kamu adalah pegawai atau calon pegawain yang profesional. Cukup berpenampilan bersih, rapih, dan pantas.

Walaupun perusahaan tempat kamu bekerja atau melamar pekerjaan menganut tata cara berpakaian kasual, ada baiknya kamu tetap membedakan baju kantor dan baju main. Tunjukkan bahwa kamu serius dan niat untuk bekerja.

Memang tidak ada hubungannya antara serius dan niat dengan penampilan, namun kembali lagi, setiap orang di kantor, baik kolega maupun atasan memiliki perspektif masing-masing soal apa yang dimaksud dengan penampilan kasual.

dress-appropriately

Misalnya, kamu memakai kaos ke kantor karena banyak orang juga memakai kaos, namun rupanya ada satu bos yang menilai bahwa pakaian kasual minimal adalah polo-shirt. Bos tersebut bisa saja memberikan penilaian kurang bagus pada performance kamu hanya gara-gara masalah pakaian.

Mungkin Ia dapat mengatakan, bagaiman kalau tiba-tiba harus menemui klien di sebuah perusahaan yang memiliki kultur berpakaian formal? Ia bisa menunjuk orang lain yang berpakaian “lebih pantas” untuk menemui klien tersebut. Hal tersebut tentunya akan menghilangkan potensimu untuk membangun koneksi dan kredibilitas.

Di mata klien sendiri, walaupun tidak dibicarakan soal penampilan, maka mereka pun memiliki penilaian sendiri. Misalnya, kamu melakukan kesalahan pada pekerjaan milik klien baru, lalu kamu juga terlihat sangat santai dalam berpenampilan, bagaimana klien dapat menilai kamu adalah seorang profesional dalam pekerjaanmu?

Atau jika kamu memiliki jabatan sebagai supervisor atau team leader yang membawahi beberapa karyawan lain. Jika kamu berpakaian sama dengan anak buahmu, bagaimana klien atau karyawan dari bisnis unit lain bisa membedakan bahwa kamu adalah “bos”-nya dan bukan satu level dengan anak buahmu.

“Ya tinggal bilang aja saya bosnya”. Bisa juga begitu, terserah kamu saja, tapi diluar sana masih banyak bos-bos lain yang tidak perlu mengatakan apa pun, namun semua orang dapat menilai bahwa Ia adalah seorang bos. Di sisi lain ini juga bisa berlaku sebaliknya, dengan penampilan dan pembawaan yang baik, bisa-bisa kamu yang pegawai biasa malah dikira bos.

Memang setiap orang memiliki penilaian yang berbeda dalam hal penampilan, ada yang tidak peduli, namun juga banyak yang peduli dan menilai seseorang dari penampilan dan pembawaan. Ingat bahwa kamu adalah representasi dari perusahaan tempatmu bekerja, dan berpakaian yang baik merupakan bentuk respekmu terhadap dirimu, perusahaan tempatmu bekerja, dan klien perusahaan.

2. Bersikap Respek dalam Berbicara dan Mendengarkan

Profesionalisme tahu bagaimana cara berbicara yang baik dan sopan. Membiasakan diri menggunakan kata “tolong” dan “terima kasih” adalah bentuk respek kamu terhadap orang lain. Tidak bergosip, menggunakan bahasa slang, atau bercanda hal-hal sensitif; walaupun membuatmu disukai banyak orang, namun tetap tidak akan membuatmu terlihat profesional.

Perbanyak kosa kata dengan mengetahui kata atau kalimat formal, terutama jika berhadapan dengan klien atau atasanmu. Selain itu kamu juga harus meningkatkan kemampuanmu dalam menjelaskan sesuatu kepada orang lain, agar orang tersebut dapat mengerti penjelasanmu. Bicara muter-muter dan lompat-lompat poin, hanya akan membuat pendengar menjadi bingung.

Jika kamu bekerja di perusahaan asing atau perusahaan kamu memiliki banyak hubungan kerja dengan perusahaan asing, maka kamu bisa meningkatkan kemampuanmu dalam berkomunikasi dalam bahasa inggris untuk bisnis. Dalam komunikasi sehari-hari, penggunaan grammar yang benar dan pemilihan kata yang tepat sudah cukup untuk menunjukkan profesionalisme kamu.

Seorang profesional juga biasanya adalah seorang pendengar yang aktif. Mereka akan memberikan kesempatan orang lain untuk berbicara, tidak memotong pembicaraan, fokus mendengarkan apa yang dibicarakan, dan memberikan tanggapan atas hal tersebut.

bicara-dan-dengar

Jika kamu berhadapan dengan seseorang yang sibuk melihat handphone ketika kamu sedang berbicara, dan tidak merasa perlu menjelaskan kenapa ia melihat handphonenya, maka sudah pasti profesionalisme orang tersebut kurang. Ia tidak menghargai kamu sebagai lawan bicaranya.

Apapun alasan ketidakfokusannya pada lawan bicara; apakah ada yang urgent, mengatakan “Maaf, saya perlu mengangkat telfon ini,” atau “Maaf, saya harus membaca pesan ini,” hanya membutuhkan waktu sedetik untuk mengucapkannya.

Atau dalam hal lain ketika kamu sedang diinterview dan orang yang menginterview mau mengetesmu ‘apa yang kamu lakukan kalau lawan bicaramu sibuk sendiri’, tapi tanpa pemberitahuan sebelumnya, maka itupun juga bukan alasan yang bisa dibenarkan.

Banyak cara lain yang bisa digunakan seperti langsung melemparkan pertanyaan “Apa yang kamu lakukan kalau lawan bicaramu sibuk dengan handphonenya, dan seperti tidak mendengarkan?” dan ia dapat menilai langsung dari jawabanmu.

Banyak hal dimana orang-orang tidak siap ketika menghadapi suatu hal yang baru, dan respon dalam menghadapinya pun bisa beragam. Namun dengan memiliki sikap respek terhadap orang lain, maka orang tersebut dapat merasa dihargai dan pasti akan menghargaimu juga. Orang lain tidak perlu bicara yang baik-baik soal dirimu, tapi tidak bicara buruk mengenai dirimu juga merupakan hal yang baik, kan?

3. Meningkatkan Keahlian dalam Pekerjaan

Semua orang dapat bekerja dan mengerjakan pekerjaan yang telah diberikan sesuai dengan jabatannya. Namun, sikap profesionalisme dalam pekerjaan bukan hanya sekedar mengerjakan dan menyelesaikan pekerjaan.

Orang yang memiliki profesionalisme selain bekerja, ia juga terus belajar mendalami pekerjaannya dan meningkatkan keahliannya dan pengetahuan akan pekerjaannya.

Kita bekerja bukan hanya dengan komputer atau laptop saja. Pekerjaan kita mempengaruhi berbagai aspek di dalam suatu perusahaan, mulai dari pekerjaan milik kolega dan divisi lain, vendor, klien, dan bisnis secara keseluruhan.

Dengan semakin mengenal pekerjaan kita, maka kita akan semakin sadar imbas pekerjaan kita terhadap bidang lain, apabila kita lalai atau gagal dalam mengerjakannya.

meningkatkan-keahlian

Selain itu, dengan semakin mengenal pekerjaan kita dapat:

  • Belajar mengatasi rintangan, kesulitan, masalah yang ada pada pekerjaan.
  • Mencari alternatif cara yang lebih efektif dan efisien untuk menyelesaikan pekerjaan.
  • Menambah pengetahuan kita akan bidang tersebut lebih dalam.
  • Menciptakan sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya dari pekerjaan tersebut.

Menjadi pekerja yang profesional bukanlah hal yang mustahil, karena semuanya bisa dipelajari. Ini hanya masalah kemauan. Sikap profesional merupakan salah satu komponen untuk menjadi sukses. Tidak ada orang sukses yang tidak profesional.

Ketiga hal di atas adalah contoh kecil sebuah profesionalisme, namun merupakan hal-hal dasar yang bisa kamu terapkan dalam dunia kerja.

Kesimpulan

Untuk menjadi seorang profesional, maka kamu harus memiliki profesionalisme terlebih dulu dalam bidang yang kamu tekuni. Kedua hal tersebut saling mendukung untuk kesuksesan karirmu. Sukses datang dari kerja keras dan kerja cerdas, dan ini dapat dicapai salah satunya dengan profesionalisme.

Tidak ada ruginya memiliki sikap profesional. Mungkin sukses belum terlihat di depan mata, tapi kamu harus selalu yakin dan berusaha dengan baik untuk mencapainya. Tetap semangat ya!

 

sign

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button